Desa Padasari, Tegal masuk zona merah tanah gerak, 863 rumah terancam, Relokasi mendesak untuk keselamatan warga.
Bencana tanah gerak kembali mengancam Desa Padasari, Tegal. Sebanyak 863 rumah kini masuk zona merah, memaksa warga bersiap relokasi.
Situasi Zona Evakuasi ini menimbulkan kekhawatiran besar, dan upaya mitigasi menjadi prioritas demi keselamatan seluruh penduduk.
Desa Padasari Tegal Terancam Bencana Tanah Bergerak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal mencatat 863 rumah masuk zona merah akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026). Dari jumlah tersebut, 699 rumah mengalami kerusakan berat hingga ringan.
Intensitas hujan yang tinggi pada Selasa (3/2/2026) memicu pergerakan tanah. Warga setempat kini harus mengungsi, sementara pihak BPBD terus memantau kondisi lokasi untuk mencegah bencana susulan. Pendataan menyeluruh terus dilakukan agar penanganan tepat sasaran.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tegal, Muhammad Afifudin, menjelaskan bahwa zona merah tidak melihat kondisi rumah, baik rusak atau masih utuh. Semua warga di daerah rawan tetap harus direlokasi demi keselamatan.
Dampak Kerusakan Rumah Dan Evakuasi Warga
Dari 699 rumah yang rusak, BPBD merinci 413 rumah rusak berat, 97 rumah rusak sedang, dan 189 rumah rusak ringan. Sementara itu, 164 rumah yang masih utuh tetap termasuk dalam rencana relokasi karena masuk area zona merah.
Saat ini, sekitar 2.460 jiwa dari 596 kepala keluarga bertahan di lokasi pengungsian. Mereka masih bolak-balik ke rumah untuk menyelamatkan barang-barang penting dan hewan ternak. Aktivitas sehari-hari warga sangat terdampak.
Afifudin menambahkan bahwa kondisi tanah saat ini mulai stabil karena intensitas hujan menurun. Namun, warga tetap diminta tidak kembali ke rumah hingga dinyatakan aman oleh petugas BPBD.
Baca Juga: Kecelakaan Solo Pickup Hantam Bus, Sopir Dievakuasi Saat Hujan
Kesulitan Menentukan Lokasi Huntara
BPBD sudah menyiapkan lahan dari Perhutani untuk hunian sementara (Huntara) bagi warga terdampak. Tantangan terbesar adalah topografi kawasan yang bergelombang dan landai, sehingga menemukan lahan datar cukup sulit.
Afifudin menegaskan, pembangunan Huntara menjadi prioritas. Dengan begitu, warga dapat segera menempati tempat tinggal sementara sambil menunggu penanganan permanen selesai.
Para pengungsi menyampaikan kekhawatiran mereka. Nur Halimah (35) menceritakan momen mencekam saat rumahnya hancur malam hari. Ia keluar rumah karena tembok sudah retak dan tanah merembes ke bagian bawah rumah.
Upaya Penanganan Dan Koordinasi BPBD
BPBD Kabupaten Tegal terus memantau pergerakan tanah dan mempercepat proses relokasi. Petugas juga membantu evakuasi barang-barang penting dan hewan ternak warga. Koordinasi dengan berbagai pihak dilakukan untuk mempercepat pembangunan Huntara.
Afifudin menjelaskan bahwa evakuasi dilakukan sesuai prioritas, dimulai dari keluarga yang rumahnya rusak berat. Selanjutnya, warga di rumah masih utuh tetapi berada di zona merah akan dipindahkan.
Selain Huntara, BPBD juga menyiapkan rencana penguatan infrastruktur dan drainase untuk mengurangi risiko tanah bergerak di musim hujan mendatang. Strategi ini menjadi bagian dari mitigasi bencana jangka panjang.
Trauma Dan Harapan Warga
Bencana tanah bergerak meninggalkan trauma bagi warga. Nur Halimah kini tinggal di tenda pengungsian bersama anaknya yang berusia 5 tahun. Ia berharap pemerintah segera menyediakan tempat tinggal yang aman dan layak.
Ahmad Ubaidillah menambahkan, meski rumahnya belum roboh, hampir semua warga sekitar telah mengungsi. Pengalaman ini membuat warga lebih waspada terhadap hujan lebat dan pergerakan tanah di masa mendatang.
Afifudin menegaskan, relokasi ke Huntara dan pemantauan intensif oleh BPBD menjadi langkah prioritas untuk keselamatan jiwa. Pemerintah berharap warga dapat menempati hunian sementara hingga kondisi tanah stabil dan pembangunan rumah permanen selesai.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari banten72.com