Ekonomi Indonesia 2026 diprediksi tumbuh terbatas dan belum menyentuh target ambisius, Sejumlah faktor global dan domestik jadi penahan.
Harapan pertumbuhan ekonomi tinggi pada 2026 tampaknya menghadapi tantangan berat. Sejumlah proyeksi terbaru memperkirakan ekonomi Indonesia bergerak lebih tertahan dan sulit menembus target ambisius yang dicanangkan.
Faktor global, dinamika domestik, hingga tekanan fiskal menjadi penentu arah ekonomi ke depan. Apakah mampu bangkit atau justru melambat lebih dalam, Simak update di Zona Evakuasi.
Target Tinggi Pertumbuhan Ekonomi 2026
Pemerintah menatap 2026 dengan optimisme tinggi. Dalam kerangka APBN 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia dipatok pada level 5,4 persen, lebih baik dibanding capaian tahun sebelumnya.
Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa ekonomi nasional berpeluang menembus angka 6 persen jika strategi yang disiapkan berjalan sesuai rencana. Keyakinan tersebut didasarkan pada asumsi perbaikan konsumsi domestik, kelanjutan proyek prioritas nasional, serta belanja negara yang lebih ekspansif.
Pemerintah menilai fondasi ekonomi masih cukup kuat untuk menopang akselerasi pertumbuhan, meski tekanan global belum sepenuhnya mereda. Namun, optimisme tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan para ekonom independen yang melihat sejumlah faktor risiko masih membayangi perekonomian nasional.
Bencana Alam Jadi Penekan Pertumbuhan
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai pertumbuhan ekonomi 2026 berpotensi melambat akibat dampak bencana alam di sejumlah wilayah Sumatera. Banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dinilai memberi efek signifikan terhadap aktivitas produksi dan konsumsi.
Wilayah terdampak tersebut mencakup lebih dari 50 kabupaten yang secara kolektif menyumbang sekitar 5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Gangguan ekonomi di kawasan ini diperkirakan tidak hanya bersifat sementara, tetapi berlanjut seiring proses pemulihan yang memakan waktu panjang.
Pengalaman masa lalu, seperti dampak tsunami Aceh, menunjukkan bahwa efek ekonomi bencana dapat berlangsung selama beberapa tahun setelah kejadian utama.
Baca Juga: Korban Meninggal Bencana Sumatera 6 Januari 1.178 Orang, Terparah di Aceh
Proyeksi Ekonom Masih Terbelah
Berbeda dengan CORE, INDEF melihat ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh stabil di atas 5 persen pada 2026. Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai meski target 5,4 persen cukup menantang, capaian di kisaran 5 persen masih realistis dan lebih baik dibandingkan pertumbuhan 2025.
Menurutnya, belanja pemerintah akan menjadi penopang utama, terutama melalui program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan Koperasi Desa Merah Putih dinilai memiliki potensi mendorong aktivitas ekonomi, meski dampaknya belum optimal dalam jangka pendek.
Program-program tersebut masih berada dalam fase awal, baik dari sisi penerima manfaat maupun serapan anggaran. Karena itu, efek riil terhadap pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan baru terasa secara bertahap.
Tantangan Menuju Target Ambisius
Meski proyeksi pertumbuhan masih berada di zona positif, tantangan menuju target pemerintah tetap besar. Dampak bencana alam, efektivitas kebijakan fiskal, serta kecepatan pemulihan daerah terdampak menjadi faktor penentu utama.
Para ekonom sepakat bahwa tanpa respons kebijakan yang adaptif dan tepat sasaran, target pertumbuhan 5,4 persen akan sulit tercapai. Pemerintah dituntut tidak hanya menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi juga memastikan percepatan rekonstruksi wilayah terdampak bencana agar tidak menjadi penahan pertumbuhan nasional.
Tahun 2026 menjadi ujian keseimbangan antara optimisme dan realisme. Apakah ekonomi Indonesia mampu melampaui ekspektasi atau justru tertahan di bawah target, sangat bergantung pada kemampuan pemerintah merespons risiko yang ada secara cepat dan efektif.
Jangan lewatkan update berita seputaran Zona Evakuasi serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari finance.detik.com
- Gambar Kedua dari infobanknews.com