Gentengisasi tidak berlaku di semua wilayah, beberapa daerah zona evakuasi dilarang pasang genteng demi keselamatan warga.
Gentengisasi, program pemasangan genteng di rumah warga, ternyata tidak berlaku di semua wilayah. Beberapa daerah yang termasuk zona evakuasi justru dilarang memasang genteng untuk mengurangi risiko bencana.
Mengapa kebijakan ini diterapkan, dan wilayah mana saja yang terdampak? Simak ulasan lengkap berikut hanya ada di Zona Evakuasi untuk mengetahui fakta penting yang harus dipahami setiap warga sebelum memasang genteng di rumahnya.
Gentengisasi: Apa Itu Dan Tujuannya?
Program gentengisasi merupakan salah satu inisiatif pemerintah yang bertujuan untuk mendorong penggunaan atap genteng pada hunian masyarakat di Indonesia. Tujuan utama program ini adalah meningkatkan kualitas bangunan serta kenyamanan hunian, sekaligus memperkuat ketahanan rumah dari iklim tropis yang ekstrem. Genteng dianggap lebih tahan lama dan estetis dibandingkan beberapa jenis atap lainnya.
Namun, kebijakan gentengisasi ini ternyata tidak berlaku secara universal di seluruh wilayah Nusantara. Pemerintah mengakui bahwa penerapan genteng tidak selalu cocok untuk tiap daerah. Faktor budaya, kondisi iklim, hingga kearifan sosial lokal berpengaruh pada keputusan desain hunian di berbagai wilayah.
Menurut Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), desain program perumahan yang dikembangkan harus mempertimbangkan kearifan lokal dan risiko lingkungan setempat. Artinya, gentengisasi hanya berlaku di daerah yang cocok, tidak dipaksakan di seluruh Indonesia.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!
Daerah Yang Tidak Cocok Dengan Gentengisasi
Salah satu contoh wilayah yang tidak umum menggunakan genteng adalah Kepulauan Bangka Belitung. Penduduk di sana memiliki tradisi tertentu yang membuat penggunaan genteng berbahan tanah liat justru dianggap kurang sesuai secara budaya.
Selain itu, ada daerah lain yang karena tradisi atau adat menghindari penggunaan genteng pada hunian tinggal. Untuk masyarakat setempat, atap genteng bisa memiliki makna simbolik tertentu yang dianggap kurang tepat dengan nilai budaya mereka.
Pendekatan penghormatan pada budaya semacam ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan seperti gentengisasi bukan sekadar soal teknik, tapi juga sosial budaya. Oleh sebab itu, desain hunian di setiap daerah perlu disesuaikan agar tidak menyinggung nilai setempat.
Baca Juga: Evakuasi Besar-Besaran! Eko Diduga Terbawa Arus Saat Perbaiki Pipa Air
Pertimbangan Risiko Bencana Dan Lingkungan
Selain alasan budaya, gentengisasi juga harus mempertimbangkan risiko bencana alam di suatu wilayah. Di kawasan rawan gempa, angin puting beliung, atau hujan deras, jenis genteng tertentu bisa menjadi kurang efektif atau bahkan berbahaya jika tidak dipasang dengan standar teknik yang tepat.
Dalam kondisi tertentu, atap genteng yang berat justru bisa meningkatkan risiko kerusakan struktur bangunan ketika terkena getaran kuat atau hantaman angin. Oleh karena itu, pendekatan desain bangunan di wilayah rawan bencana seringkali lebih fleksibel dibandingkan sekadar menerapkan gentengisasi secara mutlak.
Hal ini membuat pemerintah, saat mengintegrasikan program perumahan, mempertimbangkan faktor fisik lingkungan setempat. Di tempat dengan potensi bencana tinggi, jenis material lain seperti atap metal ringan atau sistem bangunan tahan gempa bisa lebih prioritas dibandingkan genteng konvensional.
Kearifan Lokal Dalam Desain Hunian
Implementasi gentengisasi yang menghormati budaya menunjukkan pentingnya kearifan lokal dalam perencanaan pembangunan. Pendekatan ini tidak hanya soal estetika, tapi juga penghormatan terhadap nilai sejarah dan tradisi masyarakat setempat.
Desain hunian yang mempertimbangkan karakter budaya membantu memberikan rasa memiliki (sense of belonging) bagi warga terhadap tempat tinggal mereka. Hal ini diyakini dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Dengan demikian, gentengisasi tidak bisa dipandang sebagai program satu ukuran untuk semua. Keberagaman budaya dan kondisi geografis Indonesia memerlukan kebijakan yang fleksibel dan sensitif terhadap kebutuhan lokal.
Tantangan Dan Peluang Dalam Gentengisasi
Walaupun ada wilayah yang tidak cocok dengan gentengisasi, program ini tetap menjadi peluang besar untuk mendorong ekonomi lokal. Pemerintah mengajak komunitas dan koperasi lokal untuk terlibat dalam produksi genteng berbasis sumber daya setempat agar penyerapan produk dalam negeri meningkat.
Partisipasi koperasi desa dalam produksi genteng juga diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi komunitas lokal di wilayah yang menerima program ini.
Selain itu, gentengisasi tetap memberikan ruang bagi inovasi desain rumah yang lebih efisien dan ramah lingkungan, terutama di wilayah yang secara fisik dan sosial cocok menerapkan atap genteng.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari cnbcindonesia.com